Untuk kalian para cowo, apakah pernah naksir cewe? Pasti pernah donk yah? Namanya juga cowo normal. Tapi kalo pertanyaannya, apakah kalian pernah naksir cewe, tapi cewe itu adalah pacarnya temen kalian sendiri? Nah lo...
Susah kali ya kalo kita dihadapkan dengan situasi seperti itu. Tapi sampe sekarang pun gw merasakan hal itu. Gw merasa kagum dengan seorang cewe, dimana cewe itu adalah pacar temen gw sendiri.
Lalu apa yg bisa gw lakukan? Jawabannya adalah gak ada. Iya, emang gak ada yang bisa gw lakukan selain mengagumi dia secara diam-diam. Alasan pertama adalah, gw gak mau pertemanan gw rusak gara-gara cewe. Dan alasan yang kedua adalah, karena gw emang udah punya cewe.
Tapi bisa dibilang seru lho punya perasaan seperti ini. Kita bisa ngerasa deg-degan kalo pas deket dengan dia. Merasa ge-er kalo secara gak sengaja kita tahu dia pas ngeliat kita. Ya pokoknya hal-hal kecil semacam itu, yang biasa kita rasain kalo kita lagi pedekate dengan seorang cewe. Apalagi karena emang dia adalah pacarnya temen gw satu tongkrongan, otomatis sering ketemu dia kalo lagi ada acara ngumpul bareng temen-temen, karena biasanya temen gw selalu ngajak cewenya itu.
Ya tapi memang hanya sebatas itulah yang bisa gw lakukan. Sebatas menjadi pengagum rahasianya saja. Gak lebih. Ada pepatah bilang, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Itu mungkin ada benernya juga. Kita harus lebih bersyukur terhadap apa yang sudah kita punya. Saat ini gw udah punya cewe, dan gw bersyukur akan hal itu.
Kalo sebatas naksir sana sini, apalagi naksir pacar temen sendiri, gw rasa normal sebagai seorang cowo. Yang penting kan kita gak berbuat lebih dari itu. Itu aja sih, cobalah bersyukur terhadap apa yang sudah kalian miliki.
Baca Selengkapnya...
Minggu, 28 Februari 2010
Mengagumi, walau tak mungkin memiliki
Minggu, 14 Februari 2010
Apakah akan berpisah?
"Kemaren aku ditawarin buat kerja di Australia, menurut kamu gimana?", tanyanya padaku.
Sejenak aku tertegun, mencerna pertanyaannya yang tiba-tiba.
"Apa? Australia?", tanyaku padanya seakan pertanyaannya kurang jelas.
"Iya, Australia, rencananya sih sekitar 2 tahun disana", jawabnya lagi.
"........", aku terdiam sejenak.
"Mmm... ya udah, itu kan kesempatan buat kamu. Kenapa gak diambil?", jawabku dengan nada setengah yakin.
Itulah sepenggal percakapanku dengan cewekku. Jadi begitulah, dia ditawarin seseorang untuk bekerja di Australia selama 2 tahun. Dan baru saja dia meminta pendapatku tentang hal itu.
Jujur agak terkejut waktu aku mendengar dia ngomong seperti itu. Selama ini, hampir 4 tahun selalu bersama, gak pernah terpisah terlalu lama. Jangankan ke luar negeri, aku mau melamar pekerjaan di luar kota pun dia selalu keberatan.
Dia gak pernah setuju akan hubungan jarak jauh. Hal itu karena pengalaman pahit dia di masa lalu tentang hubungan jarak jauh, dan dia gak mau hal itu terulang lagi.
Namun kali ini dia yang akan pergi meninggalkanku. Dia yang akan memulai hubungan jarak jauh ini. Mau gak mau, aku harus siap menghadapi semua ini. Dia pergi untuk kebaikannya dia.
Kemarin dia bilang, "Aku pengen banget ngejar impianku. Mungkin ini adalah salah satu jalan untuk mewujudkan impianku".
Dia mempunyai impian untuk menjadi seorang guru. Dan untuk menjadi seorang guru diperlukan gelar pendidikan terlebih dulu. Yang aku salut dari dia, dia ingin sekolah untuk mendapatkan gelar itu dengan biayanya sendiri. Itulah tujuan dia pergi Australia. Untuk mendapatkan uang demi melanjutkan sekolah pendidikan guru.
Sebuah cita-cita yang mulia. Meskipun terasa berat bagiku untuk melepasnya pergi, namun itu demi kebaikan dan masa depannya. Jadi aku akan mendukungnya.
Tapi semua itu masih belum fix 100%. Semua surat-suratnya masih harus diurus. Dan bila semuanya lancar dan disetujui, maka dia akan berangkat awal bulan depan, untuk 2 tahun mendatang.
Itulah arti dari sebuah mimpi. Orang membutuhkan mimpi untuk dapat terus dikejar. Untuk dapat terus menemukan gairah di dalam hidup. Semua orang dengan mimpinya masing-masing. Walau terkadang untuk mendapatkan sebuah mimpi harus terdapat sebuah pengorbanan. Namun itulah harga dari sebuah mimpi.
Baca Selengkapnya...
Sabtu, 06 Februari 2010
What will you do in the next 5 year?
Sekarang sudah memasuki bulan ke 4 sejak aku di wisuda. Sekarang sih lagi gencar-gencarnya job hunting. Hari sabtu pun selalu aku tunggu-tunggu. Kenapa coba? Karena di hari Sabtu pasti korannya lebih banyak lowongan pekerjaan dibanding hari-hari biasa.
Entah udah berapa pucuk surat lamaran yang aku kirimkan. Ada beberapa yang mendapat panggilan interview, dan lebih banyak lagi yang gak jelas juntrungannya diapain tuh surat sama perusahaan yang menerimanya.
Mungkin ini ada hubungannya dengan impianku. Rektorku di univeritas dulu selalu bilang dalam setiap seminarnya, "Kalo kalian mau kaya, jangan jadi pegawai. Tapi jadilah pengusaha". Entah kenapa kata2 beliau selalu melekat dalam ingatanku sampai sekarang.
Mungkin karena motivasi itulah, aku pengen untuk menjadi seorang pengusaha. Sebenernya ide ada banyak. Namun kalian tau donk masalah klasik seorang pengusaha? Yup, modal. Itu rasanya masih menjadi masalah besar buatku.
Kemaren di sebuah interview suatu perusahaan, aku ditanyai gini sama interviewernya. "Tell me about your self, what will you do in the next 5 year?". (Ceritanya aku diinterview pake bahasa inggris nih, meskipun sebenernya bahasa inggrisku gak jago-jago amat).
Jadi aku ditanya apa yang akan aku lakukan di 5 tahun ke depan.
Trus spontan aku jawab, "In the next 5 year, I will get a job, I will get my money, and then someday I will have my own bussiness".
Trus interviewernya bilang, "That's good. But it's very long way to go than".
Ya, itulah impianku, setidaknya rencana hidupku selama beberapa tahun ke depan. Aku akan ngumpulin duit dengan kerja dulu sama orang, dan kalo aku ngerasa udah tepat waktunya maka aku akan membuat sebuah usaha sendiri.
Kedengeran muluk-muluk? Gak juga. Sama sekali gak.
Karena menurutku, manusia hidup untuk sebuah impian. Manusia bisa mendapat gairah hidup karena mereka sedang mengejar sebuah impian.
Kalo perlu, buatlah sebuah impian suatu saat kalian bisa terbang ke bulan. Itu sah-sah saja.
Semakin tinggi impian, maka akan semakin keras usaha orang itu untuk meraihnya.
Dan ketika impian itu tercapai, aku yakin saat itu pasti akan ada impian lain yang lebih tinggi. Dan saat itu kalian akan bilang, ternyata aku BISA meraih impianku.
Baca Selengkapnya...